Kepada Siapa Dulukah Sedekah Kita Berikan?

admin Selasa, 29 Desember 2015 Artikel
Dilihat : 55.247 Kali

Ditulis oleh: Pristina (Mahasiswi Biologi IPB)

sumber gambar: santrigaul.net

sumber gambar: santrigaul.net

Ketika kebanyakan dari kita masih menganggap sedekah yang paling utama itu di kotak amal masjid. Ya kita tahu itu adalah amal jariyah yang tidak terputus bahkan setelah kita meninggal. Sedekah di masjid sebagian besar digunakan untuk pembangunan masjid, biaya oprasional masjid, bahkan beberapa masjid sudah menyediakan beasiswa bagi yang membutuhkan. Namun sedekah tidak sebatas itu, ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain itu juga sedekah.

Ketika kita berniat bersedekah kepada orang lain paling tidak kita akan sedikit berpikir dan belajar. Berpikir pantas tidak pemberian saya, apakah dengan pemberian ini akan membuat orang lain tersinggung meskipun niat kita baik. Kadang memberi tidak selalu dapat dinilai sebagai kebaikan. Seperti mungkin kita berniat baik ingin memberikan pakaian kita kepada orang lain, namun kita memberikan pakaian kita yang paling lusuh. Hal tersebut juga dapat menyinggung orang lain yang kita beri. Mungkin orang tersebut akan berpikiran serendah ini kah saya dipandang, sehingga hanya pakaian lusuh ini yang pantas saya kenakan. Bahkan ada yang berpendapat ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain, sesuatu tersebut sebelumnya telah kita gunakan terlebih dahulu dinilai kurang ikhlas. Meskipun keikhlasan itu hanya dapat dinilai oleh hati. Selain itu kita juga akan banyak belajar. Belajar tentang kehidupan orang tersebut, bagaimana cara membantunya, bantuan apa yang paling dibutuhkan dll.

Sedekah tidak hanya memberikan sesuatu kepada siapa saja, bahkan dalam Islam hal tersebut ada aturannya. Prioritas sedekah yang pertama adalah kepada orangtua. Orangtua disini tidak hanya orangtua kandung namun juga mertua. Sebelum kita bersedekah lebih jauh, mungkin kita bisa memerhatikan kehidupan orangtua kita terlebih dahulu. Masihkah kekurangan, apa yang bisa kita bantu untuknya. Sedekah kepada orangtua ini menjadi sangat utama bagi kita, wujud rasa bakti kita kepadanya. Hal yang perlu diingat jangan sampai kita bersedekah ke berbagai masjid, kepada orang lain tapi kita bahkan terlupakan kepada orangtua kita sendiri.

Ketika kita rasa orangtua kita telah hidup layak, mungkin kita berpikir tidak perlu bersedekah kepada orang tua. Hei… sedekah tidak hanya berupa materi, loh. Bukankah senyum yang tulus adalah sedekah? Bukankah bahasa tubuh yang baik adalah sedekah? Bukankah tatakrama atau sopan santun kita adalah sedekah? Orangtua kita mungkin tidak perlu materi dari kita namun dimasa tua, perhatian seorang anak sangat diperlukan oleh orang tua. Bahkan orang tua kita jauh lebih memerlukan senyum tulus, bahasa tubuh yang baik, sopan santun, tutur kata yang lemah lembut, perhatian, menjadi pendengar dan teman bercerita yang menyenangkan dibandingkan materi dari kita. Mungkin kita bisa memberikan materi yang banyak kepada orang tua, tapi memberinya dengan wajah cemberut, bahasa tubuhnya menandakan lelah bekerja, kata-katanya menyakitkan hati, hal tersebut justru menyinggung perasaan orang tua.

Beruntunglah orang-orang yang mengerti bahasa daerah. Seperti misalnya bahasa jawa yang mempunyai klasifikasi penggunaan kepada orang tua dengan bahasa yang lebih halus sebagai ungkapan rasa hormatnya. Kita bisa menggunakan bahasa tersebut kepada orang tua sehingga ketika berkomunikasi akan lebih terasa dekat, orang tua merasa dihargai dan tidak dinilai lupa terhadap apa yang diajarkan sejak kecil. Banyak anak muda yang sekarang bahkan tidak mengenal bahasa daerahnya. Padahal orang tua kita adalah generasi yang menjunjung tinggi bahasa daerah, mungkin juga lebih paham dengan bahasa daerah sehingga bahasa daerah ini akan lebih efektif digunakan kepada orang tua kita ketika berkomunikasi karena kadang ada suatu istilah yang susah mencari padanannya dalam bahasa Indonesia.

Prioritas kedua adalah keluarga atau kerabat. Sebelum bersedekah kesana kemari terlalu jauh, kita bisa mengamati keluarga atau kerabat dekat kita. Selain bernilai sedekah pemberian kepada keluarga ini juga dapat meningkatkan silaturrahmi dan keakraban. Ketika dalam sebuah keluarga besar saling membantu sama lain sehingga saling rukun akan menciptakan banyak kebaikan-kebaikan lain yang dapat diteruskan. Tidak hanya berhenti pada keluarga ini. Rasanya kurang etis kalau bersedekah mencari yang jauh namun banyak kerabat dekat kita yang kekurangan.

Anak yatim dapat menjadi target sedekah kita selanjutnya. Sedekah pada golongan ini mempunyai dampak yang luar biasa. Misalnya saja seorang anak yatim yang tidak bisa bersekolah lalu kita membantunya untuk bersekolah. Mungkin hal kecil saja misalnya seorang anak yatim yang bisa bersekolah dengan keadaan pas-pasan tidak bisa membeli buku. Kita bisa membantu dengan buku-buku kita dahulu yang tidak digunakan atau syukur-syukur bisa memberikan buku baru untuknya. Dapatkah kita membayangkan betapa anak ini bersyukur dengan senyumnya yang begitu indah dan bersinar. Rasa syukurnya menjadikan ia lebih semangat dan rajin belajar, hal ini dapat mendongkrak prestasinya, memperbaiki kualitas keluarganya dan dalam jangka panjang anak ini akan membangun mata rantai kebaikan. Mungkin bukan kita nanti yang akan menerima kebaikan tersebut, namun ada anak-anak yatim lain bahkan lebih banyak yang mendapat dampak dari mata rantai ini. Sederhana bukan hanya bermodal sebuah buku kita bisa membangun mata rantai kebaikan.

Orang yang membutuhkan (kaum miskin) prioritas kita yang keempat. Kelompok ini juga berpeluang membangun rantai kebaikan. Misalnya kita bersedekah kepada bapak petugas kebersihan (tukang sampah atau pemulung) yang berpenghasilan rendah sekali sehingga tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Golongan ini kira-kira mempunyai pendapatan 25rb per hari sehingga hanya mampu menyediakan makanan nasi dan tempe. Ketika kita bersedekah keluarga ini bisa membeli daging dan buah untuk konsumsi sehingga dapat meningkatkan kualitas gizi dalam keluarga. Ketika kebutuhan gizinya tercukupi, peluang penyakit akan lebih rendah.

Golongan terakhir adalah orang yang dalam perjalanan, tentunya perjalanan dalam kebaikan. Orang yang dalam perjalanan panjang tanpa keluarga ketika terjadi sesuatu maka ia hanya bergantung pada Allah. Apabila ia menerima pertolongan rasa syukurnya luar biasa sehingga bisa menjadika golongan ini lebih yakin dengan pertolongan Allah. Mungkin pertolongan Allah diberikan melalui perantara kita. Ketika kita enggan memberikan pertolongan pada golongan ini artinya kita menahan hak orang lain sehingga menghambat rasa syukur dan keyakinan seseorang terhadap pertolongan Allah. Kita tidak pernah tahu ketika kita menolong golongan ini ia bisa menebar kebaikan dan pertolongan kepada banyak orang lain sepanjang perjalanannya.

Namun saya ingin menegaskan dalam tulisan ini saya tidak bermaksud melarang sedekah di masjid atau tempat ibadah. Mungkin dengan sedekah di masjid kita bisa lebih ikhlas karena tidak banyak orang yang mengetahui. Saya hanya miris ketika dari sedekah tersebut banyak dibangun masjid yang megah namun hanya ramai ketika hari raya, sholat jumat dan ketika ada acara pernikahan. Namun disisi lain banyak saudara kita yang kekurangan yang justru berpeluang untuk membangun rantai kebaikan. Ketika suatu pertolongan ini berkesan maka seseorang tersebut akan lebih mudah menolong orang lain. Disisi lain orang yang menerima sedekah ini akan lebih bersyukur kepada Allah dan menyakini bahwa rezeki dan pertolongan Allah itu selalu ada untuk hambanya. Hal yang paling penting ketika kita bersedekah kepada sesama, kita dapat membangun interaksi sehingga kita akan banyak belajar tentang kehidupan orang lain yang akan membuat kita lebih banyak bersyukur. Jadi ketika kita membantu orang lain dampak sosial dan psikologi akan lebih terasa.

Tags: , , , , , ,

Beritahu Teman!